2. Pengukuhan Pamong Praja Muda STPDN Angkatan 17 (7 Maret 2009)
Senin, 30 Juli 2012
Wisuda & Pengukuhan Purna Praja STPDN 17
1. Pengukuhan Purna Praja STPDN Angkatan 17 (6 Maret 2009)
2. Pengukuhan Pamong Praja Muda STPDN Angkatan 17 (7 Maret 2009)
2. Pengukuhan Pamong Praja Muda STPDN Angkatan 17 (7 Maret 2009)
Minggu, 29 Juli 2012
Angkatan 17 yang Telah Berpulang
Alm.MP. CLIFF MUNTU (Manado, Sulawesi Utara)
Wafat 2 April 2007
Alm.PURNA PRAJA HERU ISTIAWAN, S.STP (Lumajang/Jawa timur)
Wafat: 22 Januari 2010
Alm.PURNA PRAJA JULIUS TEKEGE, S.STP (Kab. Paniai Papua)
Wafat: November 2011
Alm.PURNA PRAJA HERRY FACHRI (Prov.NAD)
Wafat : 23 Februari 2012
Alm.PURNA PRAJA IBRAHIM MAHU, S.STP (Kab.Buru Prov.Maluku)
Wafat 9 Maret 2012

Camat Memiliki Peran Strategis Atasi konflik Masyarakat
Semakin kondisi kita belum siap seperti yang di lakonkan oleh negara-negara maju karena berbagai keterbatasan. Sehingga kita semakin rentan konflik, jika masing-masing pihak tidak selalu waspada dan responsif untuk saling memahami.
Kebutuhan masyarakat juga demikian tumbuh berkembang, yang apabila kepentingan masyarakat setempat cenderung terabaikan, apalagi atas kehadiran perusahaan atau pihak-pihak megeksploitasi sumber daya, tidak terelakan akan terjadi konflik yang mengancam ketertiban. Terjadinya tindakan anarkhis pengrusakan, pembakaran dan bahkan pembunuhan sperti yang terjadi di Mesuji dan Bima. Oleh Karena itu Camat, dan Kepala desa/Lurah yang sebagai aparatur pemerintah yang langsung berhubungan dengan masyarakat dituntut memiliki kemampuan dengan naluri dan kepekaan tinggi. Sebagai ujung tombak pemerintah di daerah camat dan kepala desa harus mempunyai kepedulian, mampu berkomunikasi denga baik, memiliki loyalitas cerdas, dapat di percaya sadar bela negara, sehingga dapat menyelamatkan masyarakat dari berbagai ancaman dan konflik seperti yang terjadi belakangan ini dibeberapa daerah.
Masalah-Masalah inilah yang menjadi topik pembahasan pada acara Forum Fasilitasi Revitalisasi Pancasila bagi Aparatur Pemerintah, yang diikuti oleh para camat dari berbagai daerah di Indonesia, yang diselenggarakan Ditjen Kesbangpol Kemendagri di Jakarta 2-3 Maret 2012 yang baru lalu.
Kegiatan yang bertema:"Revitalisasi Pancasila Dalam Rangka Penguatan jatidiri Bangsa" ini,dimaksudkan untuk terbangunnya suatau perserpsi yang sama dari seluruh peserta dalam rangka menumbuhkembangkan kembali pemahaman nilai-nilai Pancasila bagi aparatur pemerintah sekaligus mengamalkannya. Berbagai penafsiran terhadap ideologi Pancasila, dikhawatirkan akan membawa bangsa Indonesia Menghadapi krisis Ideologi. Menguatnya pengaruh budaya asing (Westernisasi) yang terjadi terhadap prilaku dan gaya hidup masyarakat Indonesia yang tidak lagi mencerminkan nilai-nilai luhur Pancasila, serta munculnya faham-faham Radikal, meguatnya chauvirisme kesukuan sehingga membuat terjadinya disharmonis sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan aparatur Pemerintah yang paling terdepan melihat dan memonitor permasalahan ini adalah camat dan kepala desa.
Aparat Pemerintah [Camat] sebagai stakeholders yang memiliki peran strategis dalam Pemerintah Daerah, dituntut dapat mendorong terjadinya suatu perubahan kearah yang lebih baik. Yaitu kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara yang sesuai dengan prinsip-prinsip atau nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai dasar NKRI.
Dalam Forum tersebut dibahas untuk disadari dan dipahami terutama oleh para Camat bahwa kalau aparatur pemerintah daerah seperti muspida tidak harmonis, akan berpengaruh kepada kondisi masyarakat dan jika harmonis maka masyarakat akan damai dan tenang. Oleh karena itu camat dan kepala daerah harus berdaya, cerdas untuk deteksi dini permasalahan masyarakat sebelum lebih jauh timbul konflik yang menimbulkan kerugian yang menelan harta dan jiwa. Dalam kaitan itu pemerintah daerah dengan ujung tombaknya camat dan kepala desa dituntut selalu meningkatkan partisipasi masyarakat sendiri untuk hidup harmonis dan kondusif dengan kesigapan tokoh-tokoh masyarakat terhadap kegiatan kelompok-kelompok yang mulai dengan gejala ekstrim.
Abaikan Mendagri, Pemprov Bali Lantik Bupati Buleleng

Mendagri beralasan penundaan dilakukan karena Gubernur Bali Made Mangku Pastika tidak bisa memimpin upacara pelantikan. Pastika saat ini masih menjalani perawatan di Singapura.
"Utusan dari Pemprov Bali menjenguk Pastika. Muncul rekomendasi dari dokter bahwa gubernur untuk istirahat. Mohon sementara tidak diganggu. Akhirnya, Mendagri mengeluarkan rekomendasi berupa radiogram untuk menunjuk pelaksana harian serta pemberhentian Putu Bagiada sebagai bupati," kata Ketut Teneng kepada detikcom, melalui telepon, Selasa (24/7).
Namun, Pemerintah Provinsi Bali dan Muspida Kabupaten Buleleng tak mematuhi keputusan Mendagri. Mereka tetap bersikeras melantik pasangan yang diusung PDIP itu.
Kesepakatan itu diambil oleh Ketua DPRD Buleleng, Sekda Buleleng, DPRD Bali, dan Pemprov Bali. "Dengan pertimbangan agar Buleleng tetap kondusif pelantikan akhirnya dilaksanakan," kata Teneng.
Berdasarkan keputusan itu, pelantikan Suradnyana-Sutjitra dipimpin oleh Wakil Gubernur Bali Anak Agung Ngurah Puspayoga. Pelantikan digelar di DPRD Buleleng, Selasa (24/7). "Wagub, otomatis menjalankan pemerintahan, saat Gubernur berhalangan," kata Teneng.
Hanya saja, pelantikan tersebut rentan mendapatkan protes atau gugatan dari masyarakat karena melanggar keputusan dari Mendagri yang hanya meminta penetapan Sekda Buleleng sebagai pelaksana harian (Plh). Pemprov Bali pun menyerahkan proses selanjutkan kepada Mendagri. "Itu terserah Mendagri," ujar Teneng.
Pasangan Putu Agus Suradnyana-Wayan Sutjitra menang dalam Pilkada yang digelar 22 April 2012 lalu. Mereka mengalahkan Gede Ariadi-Wayan Arta (Partai Golkar), Tutik Kusuma Wardhani-I Komang Nova Sewi Putra (Partai Demokrat) dan Gede Wenten Suparlan-Ida Bagus Djodhi (Koalisi Hanura-Den Bukit). (dtc)
"Utusan dari Pemprov Bali menjenguk Pastika. Muncul rekomendasi dari dokter bahwa gubernur untuk istirahat. Mohon sementara tidak diganggu. Akhirnya, Mendagri mengeluarkan rekomendasi berupa radiogram untuk menunjuk pelaksana harian serta pemberhentian Putu Bagiada sebagai bupati," kata Ketut Teneng kepada detikcom, melalui telepon, Selasa (24/7).
Namun, Pemerintah Provinsi Bali dan Muspida Kabupaten Buleleng tak mematuhi keputusan Mendagri. Mereka tetap bersikeras melantik pasangan yang diusung PDIP itu.
Kesepakatan itu diambil oleh Ketua DPRD Buleleng, Sekda Buleleng, DPRD Bali, dan Pemprov Bali. "Dengan pertimbangan agar Buleleng tetap kondusif pelantikan akhirnya dilaksanakan," kata Teneng.
Berdasarkan keputusan itu, pelantikan Suradnyana-Sutjitra dipimpin oleh Wakil Gubernur Bali Anak Agung Ngurah Puspayoga. Pelantikan digelar di DPRD Buleleng, Selasa (24/7). "Wagub, otomatis menjalankan pemerintahan, saat Gubernur berhalangan," kata Teneng.
Hanya saja, pelantikan tersebut rentan mendapatkan protes atau gugatan dari masyarakat karena melanggar keputusan dari Mendagri yang hanya meminta penetapan Sekda Buleleng sebagai pelaksana harian (Plh). Pemprov Bali pun menyerahkan proses selanjutkan kepada Mendagri. "Itu terserah Mendagri," ujar Teneng.
Pasangan Putu Agus Suradnyana-Wayan Sutjitra menang dalam Pilkada yang digelar 22 April 2012 lalu. Mereka mengalahkan Gede Ariadi-Wayan Arta (Partai Golkar), Tutik Kusuma Wardhani-I Komang Nova Sewi Putra (Partai Demokrat) dan Gede Wenten Suparlan-Ida Bagus Djodhi (Koalisi Hanura-Den Bukit). (dtc)
Ket.Gambar: Ilustrasi dari google
Jumat, 13 Juli 2012
Kampus IPDN di Berbagai Regional se-Indonesia
Dengan pusat di Jatinangor, Kab. Sumedang Jawa Barat, Kampus IPDN Juga tersebar di beberapa region di Indonesia .
IPDN KAMPUS DI DAERAH TERDIRI DARI :
1. IPDN Kampus di Kota Bukittinggi
2. IPDN Kampus di Kabupaten Rokan Hilir
3. IPDN Kampus di Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan
4. IPDN Kampus di Kabupaten Minahasa
5. IPDN Kampus di Kabupaten Lombok Tengah
6. IPDN Kampusdi Kabupaten Kubu Raya
7. IPDN Kampus di Kota Jayapura*)
STRUKTUR ORGANISASI IPDN KAMPUS DAERAH :
Mendagri Minta Kepala Daerah Amankan Harga dan Stok Pangan Selama Ramadhan
Guna
menghadapi persiapan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 1433 H, Menteri
Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi meminta para Kepala Daerah, baik
Gubernur, Bupati dan Walikota di seluruh tanah air agar menjaga
stabilitas harga kebutuhan pokok dan kecukupan stok pangan. Permintaan
Mendagri ini tertuang dalam Surat Edaran Nomor 511.1/2362/SJ pada akhir
Juni lalu.
Menurut
Mendagri, Gubernur, Bupati/ Walikota harus memastikan, bahwa penyediaan
stok pangan dalam keadaan aman selama Ramadhan dan Idul Fitri 1433 H.
Hal ini bisa dilakukan melalui pengawalan terhadap seluruh matarantai
pengelolaan produk pangan yang dibutuhkan masyarakat.
Selain
itu, jika dianggap terdapat gejolak harga atau kekurangan stok di suatu
daerah, Mendagri Gamawan Fauzi meminta pada Gubernur, Bupati/Walikota
untuk melakukan Operasi Pasar untuk produk pangan tertentu melalui
pasar-pasar tradisional yang mudah dijangkau masyarakat. �Menyalurkan
beras untuk keluarga miskin (Program Raskin) melalui kerjasama dengan
Perum BULOG setempat,� tegas Gamawan.
Guna
mendukung tersedianya stok pangan dan stabilitas harga itu, Mendagri
juga mengingatkan pentingnya meningkatkan kelancarkan arus barang dan
orang, dengan mempercepat pembangunan dan/atau perbaikan prasarana
transportasi darat, laut, dan udara menjelang Ramadhan dan Idul Fitri
1433H.
�Pastikan
tersedianya sarana transportasi barang dan orang di darat, laut, dan
udara dalam jumlah dan kualitas yang memadai, dan kawal mobilitas barang
dan orang selama Ramadhan dan Idul Fitri 1433 H untuk mewujudkan rasa
nyaman bagi pengguna jasa transportasi,� pinta Mendagri.
Mengenai
kemungkinan terjadinya lonjakan penumpang yang tidak terangkut oleh
sarana transportasi publik, Mendagri Gamawan Fauzi meminta Gubernur,
Bupati/Walikota agar melakukan pengerahan sarana transportasi milik
Pemerintah dan Pemerintah Daerah, dengan harapan bisa mengamankan
kelancaran mudik lebaran dan mencegah aktivitas yang mengganggu
kelancaran arus lalu lintas (seperti pasar tumpah, dll).
Mendagri
Gamawan Fauzi juga meminta seluruh Kepala Daerah di tanah air agar bisa
mewujudkan ketentraman dan ketertiban masyarakat (trantibmas).
�Koordinasi dengan seluruh anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah
dalam mencegah dan mengatasi aktivitas publik yang dapat menggangu
trantibmas,� tegas Gamawan. (setkab)
Rencana Pemekaran Kabupaten Bandung Timur
Percuma, Pemekaran tanpa Jatinangor
Salah satu tokoh pendidikan di Kab. Bandung, K.H. Mamat Chosowie menilai
pembentukan Kabupaten Bandung Timur bakal tidak ada artinya kalau tidak
memasukan kawasan Jatinangor kedalamnya.
“Apa yang akan di dapat dari Kab. Bandung Timur? Sampah dari industry
yang ada di Kab. Sumedang. Kecuali kalau bisa mendorong masyarakat di
kawasan Jatinangor untuk juga bergabung di Kabupaten Bandung Timur,”
Perintis sekolah Bina Muda di Cicalengka ini mengatakan, kalau serius
upaya untuk mendirikan Kabupaten Bandung Timur harus juga mendorong
bergabungnya kawasan tersebut. “Harus ada upaya-upaya yang simultan agar
KBT (Kabupaten Bandung Timur), benar-benar menjadi sebuah kawasan yang
maju, dan tidak seperti pemekaran daerah Kabupaten Bandung sebelumnya,”
tandasnya.
Kiai Mamat, panggilan akrab pria tersebut mengingatkan, untuk mendorong
Kabupaten Bandung Timur harus diperhitungkan segalanya sejak awal.
Karena jangan sampai setelah terwujud, maka “para pejuang” pemekaran itu
tidak punya akses politik maupun kekuasaan untuk mengendalikan daerah
yang dimekarkannya sesuai dengan tujuan pemekaran itu sendiri.
“Tujuan pemekaran itu kan untuk lebih mensejahterakan masyarakat,
memudahkan masyarakat mendapatkan pelayanan pemerintah daerah, dan
tentunya percepatan pembangunan. Nah, kalau mereka tidak punya akses,
bisa-bisa malah dimanfaatkan oleh para petualang politik saja,”
pesannya.
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)




















